Cari Event


Jadwal Event

Borobudur Writer and Culture Festival 2018 : Pertemuan Para Budayawan dari Berbagai Negara

Borobudur Writer and Culture Festival 2018 : Pertemuan Para Budayawan dari Berbagai Negara
Kategori : Festival dan Pameran
Alamat : Magelang, Jawa Tengah
Website : http://borobudurwriters.id
Start Date : Nov 23, 2018
End Date : Nov 25, 2018
Views : 196

Penyelenggaraan Borobudur Writers and Cultural Festival (BWCF) 2018 yang ketujuh dijadwalkan akan berlansung dari tanggal 23 hingga 25 November di Yogyakarta dan Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah.

Borobudur Writer and Culture Festiva (BWCF) 2018 akan dimulai dengan peluncuran buku terjemahan I-Tsing tentang kehidupan religius dan spiritual dari tempat-tempat yang ia datangi, termasuk Sumatra, disebut A Record of the Buddhist Religion sebagaimana Dipraktekkan di India dan Kepulauan Melayu (671-695). Buku ini secara khusus diterjemahkan oleh komunitas Buddhis yang menjadi mitra dalam menyelenggarakan BWCF 2018, dan diterbitkan oleh Direktorat Sejarah di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Sebagai festival yang menggabungkan perayaan sastra dan seni pertunjukan, seperti tahun-tahun sebelumnya, BWCF 2018 tidak hanya menyelenggarakan seminar, simposium, dan peluncuran buku, tetapi juga pertunjukan seni. Sesuai dengan tema utama Diary and Traveling, tema kuratorial pertunjukan seni BWCF 2018 adalah: Migrasi.

Diyakini bahwa migrasi adalah masalah global yang penting saat ini. Eropa, misalnya, menyaksikan migrasi besar-besaran pengungsi Suriah, yang mengarah ke berbagai masalah sosial dan ekonomi. Sejarah sosial Kepulauan itu sendiri adalah sejarah yang penuh dengan migrasi. Sebagian besar orang di Kepulauan adalah keturunan dari eksodus dari Taiwan, yang membawa budaya Astronesian. Jauh sebelum itu, homo erectus di Jawa, seperti Pithecanthropus Erectus atau homo Soloensis, menandai kelompok terakhir eksodus manusia prasejarah dari Afrika.

"Migrasi" yang masuk dalam ruang lingkup diskusi adalah migrasi dalam dimensi yang lebih besar. Ini termasuk diaspora, pengembaraan, perjalanan ke negeri asing, urbanisasi, pelarian diri, emigrasi, dan sebagainya, karena tindakan ini berdampak pada politik, masalah sosial, dan gangguan iklim. Borobudur adalah sebuah kuil yang dulunya ditinggalkan dan dibiarkan dikelilingi oleh hutan, karena masyarakat di sekitarnya diyakini telah pindah ke daerah lain, karena lokasi candi, yang rentan terhadap letusan Gunung Merapi. Dengan tema Migrasi, penyelenggara mengundang koreografer terkenal Indonesia untuk menafsirkan hal-hal yang berkaitan dengan "mengembara" dan memamerkan karya mereka di atas panggung di Aksobhya, Borobudur. Penyelenggara juga memberikan kebebasan kepada koreografer untuk mengeksplorasi interpretasi yang lebih mendalam tentang migrasi di luar konteks perjalanan geografis. Migrasi tidak hanya terbatas pada migrasi fisik, tetapi juga bisa menjadi spiritual. Perjalanan ke jiwa.

Penyelenggara percaya bahwa materi yang dibahas di BWCF 2018 memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi tujuan wisata alternatif; yang tidak hanya memanjakan wisatawan dengan pemandangan yang indah, tetapi juga memperkaya mereka dengan pengetahuan dan sejarah. Diskusi di Rumphius, misalnya, dapat menginspirasi perjalanan retrospektif mengikuti jejak Rumphius di Ambon. Kita dapat mengunjungi sisa-sisa permukiman Rumphius di Hitu: reruntuhan Benteng Leidjen (Enkhuijzen). Diskusi tentang Atisha dapat menginspirasi wisata budaya ke Candi Muoro Jambi. Diskusi di Wallace dapat menginspirasi tur menjelajahi alam, mengikuti jejak Wallace di Maros, Sulawesi. Oleh karena itu, BWCF 2018 diharapkan dapat menjadi oasis yang menghubungkan peneliti sejarah dan penulis sastra dengan praktisi industri — para pelaku bisnis perhotelan, pekerja pariwisata, agen perjalanan, organisasi pariwisata, situs web perjalanan, dan sebagainya. Dukungan Anda akan sangat dihargai.

Selain diskusi, BWCF 2018 juga akan menampilkan meditasi pagi, pameran foto, pertunjukan tari yoga dan banyak lagi.

or cancel