Cari Event


Jadwal Event

Festival Tenun Ikat Sumba 2018 : Memperkenalkan Kain Tradisional Khas Sumbawa yang Luar Biasa

Festival Tenun Ikat Sumba 2018 : Memperkenalkan Kain Tradisional Khas Sumbawa yang Luar Biasa
Kategori : Festival dan Pameran
Alamat : Tambolaka, Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur, NTT
Start Date : Aug 2, 2018
End Date : Aug 9, 2018
Views : 1354

Pulau Sumba yang eksotis di Provinsi Nusa Tenggara Timur sekali lagi akan disorot dengan pesta yang menarik. Kali ini, sorotan akan beralih ke salah satu karya khas pulau yang paling berharga, kain tradisional Tenun Ikat, karena Festival Tenun Ikat Sumba direncanakan akan dilaksanakan lagi pada tanggal 2 - 9 Agustus 2018 yang akan dipusatkan di Kota Tambolaka sementara waktu pelaksanaan akan diumumkan kemudian.

Festival Tenun Ikat Sumba 2018 diselengarakan untuk merayakan kualitas artistik Sumba yang luar biasa, festival ini akan menyajikan semua yang telah membuat seni Tenun Ikat begitu istimewa. Ini termasuk motif dan desain yang luar biasa, warna luar biasa yang hanya menggunakan zat alami untuk pewarna seperti daun dan akar, serta filosofi dan sejarah dibalik kain tradisional yang unik ini. Penggunaan pewarna alami secara unik menyebabkan warna bertahan lama, kualitas yang benar-benar sudah teruji.

Kata "ikat" itu sendiri berarti mengikat. Setiap daerah di Sumba memiliki beragam motif dan pola ikat; Di Wanokaka, Lamboya dan juga di Tana Righu ada kain panggiling, pahikung dan pawora sedangkan di daerah Loli ada kain yang disebut kain lambaleko. Sampai saat ini, meski sebagian besar telah masuk agama Kristen atau Islam, masyarakat Sumba, tetap mengikuti tradisi megalitik seperti yang diajarkan oleh nenek moyang mereka.

Ikat tenun di seluruh Sumba memiliki makna sosial, religius dan tradisional. Berbagai jenis kain ikat terkait dengan pola dalam teknik pembuatan dan pewarnaan. Secara tradisional hanya anggota klan tertinggi dan petugas pribadi mereka mengenakan ini untuk upacara khusus saja. Pada saat pemakaman raja dan tokoh penting, tubuh yang dulunya berpakaian dengan tekstil terbaik tampil dengan baik di akhirat, dan tumpukan tekstil tambahan kemudian sering disertakan bersama orang mati juga.

Adalah orang Belanda yang mulai mengekspor ikat ke Eropa, di mana bahan mahal ini dengan cepat menjadi sangat populer. Sampai hari ini, kain Sumba dikumpulkan sebagai contoh desain tekstil dengan kualitas terbaik dan ditemukan di museum utama dunia dan juga di rumah kolektor.

"Ini memang potensi yang tak boleh dilupakan. Kain tenun Sumba memiliki motif yang berbeda, varian desainnya kebanyakan simetris yang mewakili keseimbangan dan harmoni dalam kehidupan manusia. Inilah alasan mengapa Kementerian Pariwisata sangat antusias dalam mendukung acara" kata Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Kementerian Pariwisata.

Mengingat pentingnya Tenun Ikat Sumba, Presiden Joko Widodo menghadiri Festival Tenun Ikat Sumba pada tahun 2017 yang lalu secara pribadi.

Menyajikan yang terbaik dari apa yang ditawarkan Sumba, festival ini akan melihat partisipasi lebih dari 2.000 pengrajin dari seluruh pulau. Selain menampilkan motif dan varian Tenun Ikat yang kaya, festival ini juga akan disorot dengan peragaan busana, worshops, dan beberapa program menarik lainnya. Bagi mereka yang ingin belajar lebih banyak tentang kain itu, akan ada demonstrasi di panggung produksi Tenun Ikat. Ini termasuk pencampuran warna, memutar benang, serta menenun benang menjadi selendang atau produk lainnya.

Festival ini juga akan menampilkan bazar dan pameran produk unggulan Provinsi Nusa Tenggara Timur dan inovasi modern lainnya dari Tenun Ikat.

Sementara itu, Menteri Pariwisata, Arief Yahya berharap agar Festival Tenun Ikat Sumba akan meningkatkan perekonomian pulau ini. Menyebutkan bahwa seni Sumba Tenun Ikat perlu dipromosikan lebih jauh untuk merangsang pertumbuhan industri kreatif, di mana festival ini merupakan alat yang tepat untuknya selain mempromosikan pariwisata ke Nusa Tenggara Timur pada umumnya. "Nusa Tenggara Timur adalah tujuan kelas dunia, di sinilah Anda akan menemukan Biawak Komodo yang ikonik, berbagai tempat menyelam di lepas pantai Labuan Bajo, Danau Kelimutu yang tiga warna, dan masih banyak lagi," tambah menteri tersebut.

or cancel