Wisata Bukittinggi Sumatera Barat : Tempat Wisata di Kota Bukittinggi yang Harus Dikunjungi

Terletak di dataran tinggi utara dari Padang di lembah Agam, kota Bukittinggi adalah pusat budaya Sumatera Barat. Sementara Padang mungkin pusat komersial dan administrasi modern, Bukittinggi adalah kota pasar yang ramai.

Bukittinggi bisa jadi pilihan awal perjalanan. Dari situ bisa ke Puncak Lawang, Kelok 44, kelok 9, Gardu Pandang Ambun Tanai, dan kembali ke Bukittinggi. Selanjutnya bisa dilanjutkan mengeksplore kota kelahiran Bung Hatta, salah satu proklamator Indonesia.

Puncak Lawang mesti dikunjungi. Jaraknya sekitar 1,5 jam dari Bukittinggi. Sepanjang perjalanan, pemandangan alam indah terhampar. Sawah hijau, dangau, Danau Maninjau, langit biru, awan berarak berpadu bak lukisan. Lembah Harau menyajikan keindahan serupa, perpaduan tebing-tebing tinggi, gunung, dan persawahan. Jangan lupa tengok kelok 44 berlatar Danau Maninjau dan kelok 9.

Berjalan lebih jauh, dijumpai air terjun tinggi dengan kolam di bawahnya, tepat di tepi jalan. Indah, sayangnya di tepi air terjun sudah berdiri bangunan. Di seberang jalan berjejer penjual makanan dengan tenda warna-warni. Terkesan kurang tertata, kurang rapi, tidak harmoni dengan suguhan alam. Di salah satu warung, kami menikmati segelas teh manis dan opak dengan bumbu mirip sate padang. Setelah itu kami menuju kelok 9. Jalan layang yang menyuguhkan perpaduan modernitas dan keindahan alam berupa tebing-tebing tinggi.

Selanjutnya, ekplor Bukittinggi yang kerap dipenuhi wisatawan asal Malaysia. Seharian mengeksplor Bukittinggi, bisa mengunjungo beberapa objek wisata. Di antaranya Ngarai Sianok, Lobang Jepang, Jembatan Limpapeh, Jam Gadang, Rumah Bung Hatta, menikmati nasi kapau dan pical sikai, kemudian mampir ke Pandai Sikek dalam perjalanan dari Bukittinggi ke Padang.

 

Ngrai Sianok

Ngarai Sianok menunjukkan keindahan alam Bukittinggi. Lembah, ngarai, tebing, terasa menonjol di tengah kota dan gedung-gedung. Dari gardu pandang, pemandangan Ngarai Sianok ungguh memukau.

Tidak jauh dari situ ada Lobang (Lubang) Jepang sepanjang 1.400 meter, tempat pertahanan, gudang senjata, dan makanan tentara Jepang. Diperkirakan sekitar 1942, ratusan ribu orang dari luar Pulau Sumatra dipaksa membangun Lobang Jepang.

 

Jam Gadang

Dari Ngarai Sianok, dilanjutkan berjalan kaki ke Jam Gadang. Berdiri megah dan terawat baik, kontras dengan keriuhan dan bangunan modern di sekelilingnya. Masyarakat dan wisatawan bersantai di halaman yang mengitari ikon Kota Bukittinggi itu. Di salah satu sisi jalan berderet kereta kuda yang siap digunakan. Tarif keliling kawasan Taman Ponarama sekitar Rp50 ribu. Keliling Kota Bukittinggi Rp100 ribu.

 

Nasi Kapau

Dari Jam Gadang kami melintasi Jembatan Limpapeh, kemudian makan siang di Nasi Kapau yang terkenal itu. Menikmati dendeng kering, rendang ayam, berikut potongan dadu singkong yang sudah digoreng dan dibumbui. Sungguh nikmat. Uniknya, ketika membungkus untuk dibawa pulang, porsinya jauh lebih besar dan harganya lebih murah dibandingkan dengan makan di tempat. Nasi kapau melengkapi kuliner sebelumnya di Pical Sikai, khas Bukittingi.

 

Museum Bung Hatta & Pandai Sikek

Sasaran selanjutnya adalah Museum Bung Hatta. Rumah kayu tempat kelahiran dan kerja Bung Hatta itu terasa sejuk dan asri. Perabotan kuno di dalamnya terjaga dengan baik. Dari situ perjalanan akan dilanjutkan ke Kota Padang. Sebelumnya mampir terlebih dahulu ke Pandai Sikek, perkampungan tenun dan kain bordir khas Sumatra Barat.

Pecinta kain tradisional akan dimanjakan dengan berbagai jenis kain dengan harga terjangkau. Salah satunya ada di Toko Satu Karya. Harga satu lembar kain tenun sekitar Rp450 ribu. Kain sepanjang empat meter dengan bordiran bunga Rp90 ribu hingga Rp150 ribu. Kain kerudung antara Rp20 ribu hingga Rp60 ribu. Wisatawan asal Malaysia sangat gemar berbelanja. Mereka membeli untuk oleh-oleh, bahkan sebagian untuk dijual kembali. Selamat menikmati pemandangan dan berbelanja!


Favorit