Wisata Buton : Tempat Wisata yang Indah dan Tradisi yang Unik di Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara

Buton secara administratif dikenal dengan nama Kabupaten buton yang terletak di Sulawesi Tenggara. Berawal dari kesultanan Buton dengan ibukota Baubau. Selain terkenal dengan hasil tambang aspalnya, Buton juga terkenal dengan keindahan alamnya yang luar biasa. Keindahan biota bawah lautnya dan aneka ragam budaya menjadi daya tarik dari Buton. Berikut beberapa daya tarik kekayaan alam dan budaya dari buton.

Keraton Buton

Keraton Buton letaknya berada di Kota Bau-bau, Sulawesi Tenggara. Banyak yang tidak tahu bahwa Keraton Buton memiliki benteng terluas di dunia yang tercatat dalam Guinness Book of Record dan Museum Rekor Indonesia (MURI). Benteng tersebut memiliki panjang keliling benteng mencapai 2,7 km dan luasnya 23,375 hektar.

Benteng Keraton Buton dibangun sekitar abad ke-16 oleh sultan ketiga Buton La Sangaji yang memiliki gelar Sultan Kaimuddin. Di dalam Keraton Buton terdapat berbagai tempat yang bisa kita lihat. Mulai dari gua yang diyakini pernah menjadi persembunyian Sultan Bone bernama Arung Palakka. Di sekitar situ ada pula makam Sultan Alimuddin yang memerintah tahun 1788-1791. Panorama yang dapat kita saksikan dari benteng keraton Buton sangat indah, yaitu perkotaan dan lautan yang luas.

 

Kampung Wabula

Kampung Wisata Wabula merupakan salah satu ujung tombak dari pariwisata Buton, hanya terdapat 3000 jiwa dan hanya ada 400 rumah. Kebanyakan rumahnya merupakan rumah panggung yang terbuat dari kayu. Sedikitnya jumlah penduduk di karenakan wilayah Wisata Wabula tersebut merupakan daerah pesisir, dimana berisi pantai. Pasir pantai ini berwarna putih, dan air di dalam pantai bersih sehingga terlihat jelas apa yang ada di dalamnya. Dan banyak batu batu besar yang ada di dekat pantai, sehingga menambah keeksotisan dari pantai ini. Selain dari pantainya tersebut, wisata budaya juga dikembangkan. Tiap tahun ada pesta adat Pidoa Anokuri, yang menampilkan pembacaan doa, makan bersama, dan pertunjukkan kesenian. Semuanya sebagai simbol rasa syukur hasil panen kuri.

 

Kampung Bajo

Kampung Bajo ini merupakan salah satu kampung milik Suku Bajo, yang merupakan suku yang nomaden. Kampung Bajo adalah salah satu daerah wisata laut yang ada di Sulawesi selatan. Tempat tinggal yang terapung yang ada ditengah laut, dan hidup diantara karang laut. Pemukiman Suku Bajo yang satu ini terlihat bersih dan tertata. Selain rumah, ada masjid dan sekolah untuk para warga di sini. Suasananya cukup sejuk di pagi hari, bau amis pun tidak keluar seperti air sungai yang ada di kota kota.

 

Pantai Kamali

Pantai Kamali merupakan salah satu pantai yang berada di kota Bau Bau, Sulawesi tenggara. Pantai ini terdiri dari tiga bagian. Yaitu Bagian tengah, bagian timur, dan bagian barat. Pantai Kamali ini merupakan pantai yang memiliki “naga” di dekat pintu masuknya. Itu terdapat pada bagian tengah dari sisi pantai tersebut. Patung Naga ini berwarna Hijau dan ekornya “ditemukan” 5 KM dari kepala naga tersebut. Patung naga itu diimplementasikan sebagai hubungan antara sejarah kesulitan Button dan Imperium China. Selain itu, muncul mitos untuk bahwa pernah ada Naga hidup di Pulau Buton yang bernama Lawero.

 

Goa Langalu

Penerangan untuk gua ini masih kurang, hanya ada beberapa titik tertentu. Di dalam gua tersebut, hanya ada beberapa lorong yang dapat dilalui. Di dalam gua, jalan jalan yang dilewati terjal karena terdapat bebatuan yang menonjol tidak hanya di kanan dan dikir jalan saja, akan tetapi juga di jalan yang di lalui. Di dalam gua Langalu ini terdapat Stalaktit dan stalagmit menonjol di berbagai sisi gua. Di tengah tengah gua, terdapat batu yang menyerupai bentuk Kabah. Batu ini telah ada sejak ditemukan gua tersebut oleh masyarakat, dan batu tersebut terbentuk secara alamiah tanpa campur tangan manusia. Selain batu tersebut, ada batu lain yang berbentuk kecil kecil yang menyerupai onde onde, sehingga disebut sebagai batu onde onde.

 

Pantai Koguna

Pantai Koguna merupakan salah satu dari beberapa pantai yang memiliki keindahan alamnya. Pantai yang terletak di Desa Mopano, Kecamatan Lasalimu Selatan ini merupakan pantai yang memiliki pasir pantai putih dan halus. Sekitar 50 m dari pantai terdapat danau udang merah. Selain itu, di daerah belakang dari pantai tersebut masih hutan yang alami, sehingga menambah keeksotisan dari pantai tersebut. Pantai Koguna ini merupakan salah satu pantai yang belum begitu terjamah oleh wisatawan. Hal ini dikarenakan agak jauh dari penduduk sehingga cukup sedikit orang yang mengunjunginya.

 

Danau Udang Merah

Danau Udang merah merah ini merupakan danau yang ditemukan pada tahun 1971 di dekat pantai Koguna ini. Danau udang merah ini berlokasi di Desa Mopano, Kecamatan Lasalimu Selatan. Danau ini dikenal sebagai danau udang merah dikarenakan brisi udang yang berwarna merah ketika ditemukan. Danau Udang Merah ini berukuran sekitar 70x25 m dan berada di tengah hutan yang berada dibelakang pantai Koguna. Mitos yang beredar disekitar itu adalah untuk tidak mengambil dan memakan udang yang ada. Jikapun terpaksa untuk meminjam dan kemudian udang tersebut mati, maka harus dikembalikan ke danau tersebut. Selain itu juga kita dilarang untuk berenang dan mandi di dalam danau tesebut.

 

Pedole-dole

Pedole dole merupakan salah satu budaya tua yang masih dipertahankan yang ada di wilayah Kecamatan Pasarwajo, Kabupaten Buton. Tradisi ini adalah pemberian imunisasi tradisional untuk ratusan orang minimal dengan estimasi umur dari 3 bulan hingga 5 tahun. Pedole dole ini merupakan ritual yang dimulai dengan pemberian dupa kepada peserta imunisasi ini, kemudian dibacakan doa oleh Bhisa atau dukun. Masing-masing balita akan digendong kemudian diberi asap kemenyan sambil didoakan. Lalu si anak akan ditengkurapkan di atas daun pisang dan diberi minyak yang dicipratkan dengan dedaunan. Beberapa anak disuapi makanan agar merasa lebih nyaman.

 

Ritual Posuo

 Ritual Posuo ini merupakan ritual untuk mendapatkan jodoh bagi masayrakat Sulawesi selatan. Ritual ini dimulai dengan dipingitnya gadis gadis di Sulawesi selatan yang telah mengalami  haid pertama. Perempuan yang telah dipingit tersebut di”asing”kan di dalam rumah selama 4 hari. Di dalam pengasingan tersebut, gadis tersebut diberikan nasehat dan wejangan dari para tetua. Setelah pengasingan tersebut, maka perempuan perempuan itu kemudian keluar menuju rumah adat Baruga di Pasarwago. Kemudian, di tempat tersebut dilakukan upacara pelepasan oleh para tetua. Setelah itu, mereka berdandan dengan menggunakan baju adat atau merias diri setelah itu mereka siap untuk dilamar.

 

Pakande Kandea

Pakande Kandea adalah salah satu tradisi untuk makan bersama makanan khas wilayah Buton dengan jumlah orang yang cukup banyak, yaitu sekitar 2000 orang. Berbagai makanan disusun di atas 2.000 talang yang disusun berjejer di atas alas. Isinya terdiri dari nasi, lauk pauk dan aneka kue. Hasil laut seperti ikan dan lobster pun terlihat di beberapa talang yang mirip seperti loyang besar. Setiap talang itu dijaga oleh 1 – 2 wanita Buton yang memakai baju adat dan berdandan cantik. Mereka adalah beberapa ibu-ibu dan anak gadis yang memang sudah dipilih untuk menjaga talang. Semuanya duduk di depan talang dan turis serta warga Buton akan duduk berhadapan dengan wanita tersebut.


Favorit