Cari Tempat Wisata


Pasar Bolu dan Makale : Jejak Budaya dan Peradaban di Pasar Tradisional Toraja

Pasar Bolu dan Makale : Jejak Budaya dan Peradaban di Pasar Tradisional Toraja
Kategori : Wisata Gaya Hidup / Shopping
Lokasi Indonesia / Sulawesi Selatan
Alamat : Pasar Bolu, Toraja, Sulawesi Selatan
Views : 507

Pasar tradisional berfungsi tidak hanya sebagai alat penjualan dan pertukaran, namun pada kenyataannya memiliki banyak peran penting lainnya. Pasar Bolu dan Pasar Makale adalah dua pasar terbesar di TanaToraja, Sulawesi Selatan, dan jelas mencerminkan budaya dan peradaban masyarakat Toraja dan masyarakat sekitar. Tapi sebelum belajar tentang pasar itu sendiri, orang harus terlebih dahulu mengenal sejarah dan peran pasar, serta hubungannya dengan Masyarakat Toraja.

Dulu, budak, senjata api, dan kopi merupakan komoditas utama dalam sistem perdagangan Toraja. Pada abad ke-17, Toraja telah menjadi bagian dari sistem perdagangan global, untuk memperdagangkan budak yang dikirim ke Siam. Pada pertengahan abad ke-19, dengan kopi dan senjata api ditambahkan ke dalam barang yang akan diperdagangkan, perdagangan meningkat dengan cepat. Kopi dan budak diekspor dari Toraja, sementara senjata dan kain dibawa ke Toraja. Meskipun lanskap Toraja bergunung-gunung dan tampaknya tidak dapat diakses, ini tidak menyebabkan hambatan terhadap posisinya dalam perdagangan global.

Selama masa itu, pasar yang dijalankan oleh berbagai kelompok etnis di seluruh Toraja meski sering berperang satu sama lain. Pasar terbesar di Toraja saat itu adalah Pasar Kalambe, (sekarang dikenal sebagai Pasar Bolu,) dan Pasar Rantepao, (sekarang dikenal sebagai Pasar Pagi Rantepao).

Pasar Bolu terletak di Rantepao, pusat wisata Toraja, dan merupakan objek wisata yang populer, dan tempat yang menarik untuk dikunjungi. Sesuai jadwal, pasar hanya dibuka sekali dalam 6 hari, dan merupakan pusat penjualan utama kerbau maupun babi. Sayuran, buah, kopi dan produk makanan lainnya juga bisa ditemukan di pasar ini.

Pada hari pasar, "jalan-jalan" Bolu ramai dikunjungi orang lokal untuk transaksi jual beli, begitu juga wisatawan asing dan domestik yang datang menyaksikan pertunjukan tersebut. Jumlah kerbau yang terjual bisa mencapai hingga 500, terutama pada saat upacara. Harga kerbau mencakup berbagai macam, tergantung warna, corak, dan ukurannya. Kerbau hitam kecil harganya sekitar 5 juta rupiah, sementara yang lebih besar dengan warna yang sama bisa dijual seharga 10 - 15 juta rupiah. Tedong Bonga, atau kerbau berbintik, yang dianggap lebih unggul bisa dijual puluhan juta rupiah, sementara kerbau albino yang sangat langka bisa mencapai harga jual bahkan ratusan juta.

Jika Kerbau adalah komoditas utama yang dijual di Bolu, pasar Makale setara dengan babi. Pasar Makale bertempat di blok sekitar 50 x 20 meter, dan sering disebut sebagai "Pasar Swine." Pasar dibagi menjadi tiga bagian yang berbeda: satu untuk anak babi yang hidup, satu lagi untuk babi dewasa yang hidup, dan satu lagi untuk daging babi .

Babi yang masih muda disimpan dalam karung beras, hanya dibuka agar calon pembeli bisa mengintip, sedangkan babi dewasa biasanya terikat pada tiang bambu di aula utama. Anak babi biasanya dibeli untuk dipelihara dan dibesarkan. Harga pada babi mulai sekitar 500.000 - 750.000 untuk anak babi, sementara ukuran yang lebih besar menghabiskan biaya antara 3 - 9 juta rupiah, meskipun beberapa dapat dijual seharga puluhan jut. Kadang-kadang, bobot mereka secara kebetulan menyaingi seekor kerbau. Berbeda dengan kerbau, babi hitam lebih mahal dari pada albino atau babi buram. Seperti pasar lainnya, Makale hanya buka sekali dalam enam hari.

Meskipun mayoritas penduduk Toraja adalah orang Kristen, sebagian besar masih menganut ajaran Animisme, menjadikan hewan memiliki peran yang sangat penting dalam budaya Toraja. Kerbau adalah persyaratan yang harus dipenuhi dalam upacara adat, terutama pemakaman, karena diyakini bahwa kerbau, saat disembelih, bertindak sebagai wahana semangat orang meninggal untuk mencapai Nirvana.

Kerbau dan babi juga berfungsi sebagai simbol status. Semakin tinggi posisi keluarga, semakin banyak kerbau yang harus disembelih. Untuk keluarga kelas menengah, 8 ekor kerbau dan 50 ekor babi merupakan jumlah wajib yang harus dipenuhi saat melakukan pemakaman tradisional. Bagi bangsawan, sebanyak 25 - 100 ekor kerbau bisa dibantai.

Meskipun banyak hal telah berubah selama berabad-abad, beberapa hal tetap sama. Di Toraja, keberadaan pasar ini sangat terintegrasi dengan budaya dan tradisi mereka, dan hari pasar merupakan bagian dari warisan masyarakat Toraja yang tidak pernah bisa dipisahkan.

Penginapan

Toraja Heritage Hotel
Jl. Kete Kesu, P.O. kotak 80
Sulawesi Selatan
Telepon: 62-4232 1192
Email: info@torajaheritage.com
Sales_marketing@torajaheritage.com
Website: www.torajaheritage.com

Hotel MaranteToraja
Jurusan Palopo, P.O. kotak 52
Rantepao, Toraja Utara, Sulawesi Selatan
Telepon: 62-4232 1616
Email: info@marantetoraja.com
Website: www.marantetoraja.com

Toraja Misiliana Hotel
Jl. Pontiku No. 27
Rantepao, Tana Toraja, Sulawesi Selatan
Telepon: 62-4232 1212 / 62-4232 1575
Website: www.torajamisiliana.com

 

Mencapai Lokasi

Untuk mencapai Toraja, pertama Anda harus tiba di Makassar. Dari Makassar dilanjutkan dengan penerbangan langsung atau melalui jalur darat menuju Toraja.

• Tersedia ke Rantepao yang berangkat dari Makassar setiap hari. Perjalanan memakan waktu sekitar 8 jam termasuk berhenti untuk makan. Tiket harus dibeli di kota, berangkat dari terminal bus DAYA, 20 menit dari kota oleh bemo. Bus ini biasanya pergi di pagi hari (jam 7 pagi) dan di malam hari (pukul 7 malam).

• Beberapa perusahaan di Rantepao menjalankan bus kembali ke Makassar. Jumlah bus setiap hari tergantung pada jumlah penumpang.

• Cara yang terbaik dan termudah adalah menghubungi agen perjalanan yang berpengalaman untuk mengatur dan mengurus jadwal lengkap Anda ke dataran tinggi Toraja.

or cancel

Tempat Wisata Lainnya di Sulawesi Selatanmore »