Cari Tempat Wisata


Candi Bahal atau Candi Portibi : Satu-satuya Candi Peninggalan Kejayaan Buddha di Sumatera Utara

Candi Bahal atau Candi Portibi : Satu-satuya Candi Peninggalan Kejayaan Buddha di Sumatera Utara
Kategori : Wisata Budaya & Warisan / Candi (Kuil)
Lokasi Indonesia / Sumatera Utara
Alamat : Candi Portibi, Desa Bahal, Padang Lawas, Sumatera Utara
Views : 3310

Tidak seperti di pulau Jawa, di mana warisan kerajaan Hindu dan Budha yang berkembang pesat terbukti melalui kuil-kuil yang mengesankan, ini jarang ditemukan di Sumatra.

Di antara sedikit yang ditemukan di Sumatra, satu kompleks candi tertentu menonjol sebagai monumen langka saat Buddhisme berkembang di pulau ini. Kompleks ini disebut Candi Bahal dan terletak di Desa Bahal, di Kabupaten Padang Bolak, Kabupaten Tapanuli Selatan, di provinsi Sumatera Utara.

Sementara Bahal diambil dari nama desa, candi tersebut dikenal dengan nama lain yaitu Candi Portibi. Dalam bahasa etnis Batak setempat, Portibi secara harfiah berarti "Dunia" atau "Bumi", dengan demikian, memberi candi itu sebuah nama khusus dan unik sebagai Candi Dunia.

Bahal atau Portibi diperkirakan telah ada selama ribuan tahun, dan diyakini dibangun oleh Raja Hindu Shiva dari Tamil yang memerintah dari India Selatan. Namun, pakar lain mengemukakan bahwa keberadaan candi tersebut terkait dengan Kerajaan Pannai yang merupakan bagian dari Kerajaan Sriwijaya yang luas, dan mendapat tempat duduk di Sumatera Selatan. Candi ini juga diperkirakan dibangun pada era yang sama dengan Candi Muara Takus di Provinsi Riau, sekitar abad ke-20.

Para ahli mengungkapkan bahwa ketiga candi yang saat ini ditemukan di Bahal merupakan bagian dari setidaknya 26 candi serupa yang tersebar di area seluas 1.500 kilometer persegi di Padang Lawas, di Tapanuli Selatan. Karena lokasinya yang berada di tengah lapangan yang luas, masyarakat setempat sering menyebut Candi Padang Lawas atau "Candi di Lapangan yang Luas".

Kompleks Candi Bahal terdiri dari tiga candi yang berjarak sekitar 500 meter. Beberapa kilometer dari Candi Bahal, juga ditemukan Kompleks Candi Pulo.

Kompleks Candi Bahal terletak di tepi Sungai Batang Pane. Beberapa teori menunjukkan bahwa Sungai Batang Pane pernah menjadi jalur transportasi penting yang ramai dengan aktivitas ekonomi. Namun, saat ini sungai telah tertimbun lumpur dan nyaris tidak mungkin menampung kapal perdagangan.

Juga dikenal sebagai Biaro oleh masyarakat setempat, Kompleks Candi Bahal dikenal sebagai kompleks candi terbesar di Sumatera Utara. Semua candi, Candi Bahal I, Candi Bahal II, dan Candi Bahal III, dibangun dengan menggunakan batu bata merah, sementara patung-patung diukir dari batu pasir. Masing-masing candi dikelilingi dan tembok bata setebal 1 meter  dan setinggi 1 meter. Pintu gerbang terletak di sisi timur dan memanjang ke luar dengan tinggi dinding 60 cm di kedua sisinya. Di tengah masing-masing daerah berdiri candi utama dengan pintu masuknya menghadap gerbang.

Kompleks ini berpusat di sekitar Candi Bahal I, yang dianggap sebagai candi utama, dan relatif lebih besar dari dua candi lainnya. Arsitektur candi ini mirip dengan candi Jabung yang terletak di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Secara umum, candi terdiri dari pondasi, kaki, badan, dan atap, dan diletakkan di atas dasar persegi panjang sekitar 7 meter persegi.

Di antara pakar terkemuka yang telah melakukan penelitian di Kompleks Candi Bahal adalah Franz Junghun (1846), Von Rosenberg (1854), Kerkhoff (1887), Stein Callenfels (1920 dan 1925), De Haan (1926), Krom (1923), dan juga FM Schinitger yang diketahui telah mempelajari dan menjelaskan banyak sisa arkeologi sejarah Sumatra.

F.M Schinitger adalah seorang Arkeolog Jerman yang melakukan penelitian di kompleks candi pada tahun 1935 berdasarkan Tablet Tanjore yang menggunakan Bahasa Tamil, dan konon dibangun oleh Raja Coladewa dari India Selatan pada tahun 1030.

Schinitger percaya bahwa menurut catatan penjelajah Cina, I-Tsing, raja dikatakan telah menaklukkan tanah Pannai. Melalui penelitian lebih lanjut, Schinitger menyimpulkan bahwa kompleks candi harus terkait erat dengan Buddhisme Vajranaya yang sedikit berbeda dengan Buddhisme seperti yang diketahui saat ini. Sekte ini ditandai dengan simbol ganas yang ditunjukkan oleh wajah mengerikan dari patung raksasa. Simbol yang juga ditemukan di relief candi menggambarkan raksasa yang melakukan tarian Tandava. Tandava digambarkan sebagai tarian yang kuat yang menjadi sumber siklus Penciptaan, Pelestarian dan Pembubaran.

Di antara reruntuhan di Candi Bahal II, Patung Heruka ditemukan, yang dianggap satu-satunya jenis yang pernah ditemukan di Indonesia. Patung tersebut menggambarkan seekor raksasa yang agak ganas menari di atas mayat dan dihiasi deretan tengkorak. Bambang Budi Utomo, seorang peneliti dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional menggambarkan patung tersebut sebagai berikut: "Tangan kanan (raksasa) memegang vajra tinggi-tinggi, sementara tangan kirinya memegang tengkorak manusia di depan dadanya".

Aktivitas

Sebelum mengunjungi candi, yang terbaik adalah mengunjungi Museum Candi Bahal, yang berada di pos penjaga Candi Bahal I. Di museum Anda bisa mengamati beberapa bagian reruntuhan candi yang masih bisa dipelajari.

Ada juga bagian dari patung atau hiasan yang terbuat dari batupasir yang bukan merupakan bagian dari candi yang dibangun dengan bata merah. Museum ini juga merupakan tempat arkeolog melakukan proses rekonstruksi kompleks candi. Namun, untuk mengunjungi museum Anda perlu menghubungi petugas yang bertanggung jawab, atas izin khusus karena tidak sepenuhnya terbuka untuk umum.

Candi Bahal I mudah dijangkau dengan kendaraan dan berfungsi sebagai pintu masuk ke seluruh kompleks, sedangkan Candi Bahal II yang lebih kecil terletak 300 meter dari Candi Bahal I. Untuk mencapai Candi Bahal III, Anda perlu berjalan di jalan setapak, melintasi sawah, dan rumah-rumah lokal.

Penginapan

Di kota Padang Sidempuan ada sejumlah pilihan hotel tersedia.

Perjalanan atau Rute Menuju Candi Bahal (Candi Portibi)

Kompleks candi Padang Lawas terletak di atas sebuah bukit yang dikelilingi oleh lembah dan sawah di Desa Bahal, Kabupaten Padang Lawas, Provinsi Sumatera Utara, sekitar 80 Km atau tiga jam perjalanan dari Padang Sidempuan. Pintu masuk ke Kompleks Candi Bahal terletak di Desa Bahal melalui penyeberangan Portibi di kota Gunung Tua.

Situs ini sekitar 400km dari Medan, ibu kota Sumatera Utara, dan bisa ditempuh mengikuti rute Medan-Padang Sidempuan-Padang Bolak- Desa Bahal. Seluruh perjalanan akan memakan waktu sekitar 12 jam.

or cancel