Cari Tempat Wisata


Benteng Kuto Besak di Palembang : Ikon Provinsi Sumatera Selatan

Benteng Kuto Besak di Palembang : Ikon Provinsi Sumatera Selatan
Kategori : Wisata Budaya & Warisan / Ikon Kebanggaan
Lokasi Indonesia / Sumatera Selatan
Alamat : Benteng Kuto Besak, Palembang, Sumatera Selatan
Views : 324

Berdiri setinggi 10 meter dan 288,75 meter panjang Benteng Kuto Besak, untuk melihat ke bawah yaitu kapal yang lewat dan kapal-kapal di Sungai Musi di bawahnya. Dibangun pada abad ke-17, Benteng Kuto Besak merupakan warisan Kesultanan Palembang Darussalam, yang memerintah dari tahun 1550-1823. Berfungsi sebagai pos pertahanan, lokasi Benteng secara politis dan geografis strategis, yang berbatasan dengan Sungai Musi di bagian selatan, Sungai Sekanak di sebelah baratnya, Sungai Kapuran di sebelah utara, dan Sungai Tengkuruk di sebelah timurnya.

Menurut sejarah, pembangunan Benteng Kuto Besak diprakarsai oleh Sultan Mahmud Badaruddin I yang memerintah dari tahun 1724 sampai 1758. Pembangunannya dimulai pada tahun 1780 pada era Sultan Mahmud Badaruddin. Benteng itu dimaksudkan sebagai istana, yang dibangun untuk menggantikan Keraton Kuto Lamo tua atau Benteng Kuto Lamo yang tidak terlihat cukup megah. Saat ini, Benteng Kuto Lamo digunakan sebagai Museum Sultan Mahmud Badarudin II Butuh waktu 17 tahun sebelum Benteng Kuto Besak akhirnya digunakan secara resmi sebagai pusat pemerintahan Kesultanan sejak 21 Februari 1797.

Benteng Kuto Besak merupakan cerminan dari masyarakat multi etnis di era Kesultanan Palembang Darussalam. Pengawasan pembangunannya dipercayakan kepada atasan China, sementara buruh asli Palembang dan Cina yang bekerja bahu-membahu dalam harmoni. Ini juga merupakan salah satu warisan yang diwariskan hingga hari ini seperti yang diilustrasikan dalam banyak acara khusus kota seperti pada Perayaan Cap Go Meh dan Imlek.

Setiap sudut benteng diperkuat dengan bastion. Benteng di sudut barat lebih besar dan mirip dengan benteng lainnya di Indonesia sementara tiga benteng lainnya memiliki keunikan tersendiri, dan tidak mungkin ditemukan di tempat lain. Gerbang utama, yang disebut lawang kuto, terletak di selatan menghadap Sungai Musi, sedangkan gerbang lainnya, yang disebut lawang borotan terletak di barat dan timur, gerbang barat sekarang adalah satu-satunya yang masih berdiri.

Sejarah mengatakan bahwa pada tahun 1821 benteng itu diserang oleh tentara kolonial Belanda. Benteng Kuto Besak diambil dan Sultan Mahmud Badaruddin II diasingkan ke Maluku. Ini menandai berakhirnya era Kesultanan Palembang. Pendudukan Belanda meninggalkan bekas di benteng karena mengukir gaya kolonialnya di Benteng Kuto Besak.

Saat ini, Benteng Kuto Besak, sayangnya, tertutup untuk umum karena digunakan sebagai pangkalan militer. Namun, Benteng tetap menjadi daya tarik. Saat matahari terbenam di sore hari, lampu menyala di sekitar benteng, menciptakan kilau yang menyoroti dinding benteng. Sebagai salah satu landmark bersejarah, perjalanan ke Palembang tidak akan lengkap tanpa kunjungan ke Benteng Kuto Besak.

Perjalanan menuju Benteng Kuto Besak sangat mudah. Naik taksi atau cari kendaraan umum, angkot yang lewat di dekat benteng. Bus juga melewati kompleks bersejarah ini, begitu pula Trans Musi biru.

or cancel