Cari Tempat Wisata


Sorong : Kota Pelabuhan yang Menjadi Gerbang Menuju Papua dan Raja Ampat

Sorong : Kota Pelabuhan yang Menjadi Gerbang Menuju Papua dan Raja Ampat
Kategori : Wisata Budaya & Warisan / Kota
Lokasi Indonesia / Papua Barat
Alamat : Sorong, Papua Barat
Views : 806

Kota Sorong, yang terletak di "puncak" Semenanjung Kepala Burung di Papua Barat adalah titik tolak kunjungan Anda ke taman laut Raja Ampat yang menakjubkan. Kata "Sorong" dikatakan berasal dari bahasa Soreri setempat yang berarti "laut dalam dan bergejolak". Pegunungan, bukit, dataran rendah, dan hutan lindung dengan aman mengelilingi kota. Sebagai pelabuhan yang menjadi gerbang masuk ke papua, penghuninya berasal dari keturunan multi etnis.

Sorong telah lama menjadi salah satu pelabuhan tersibuk di Papua Barat, karena pasokan minyak yang ditemukan di wilayah ini sejak 1932. Namun, proyek minyak telah menurun secara signifikan saat ini. Ladang minyak produktif dari Sorong adalah salah satu alasan mengapa bekas penjajah Belanda bergantung pada Irian (nama lama Papua) bahkan setelah kemerdekaan kepulauan Indonesia. Tidak mengherankan bila kota ini multi budaya.

Saat ini, minyak sebenarnya masih industri dominan di sini, meski ekspor kayu kedua, dengan kayu bulat biasanya langsung dikirim ke luar negeri. Saat ini, peraturan pemerintah mengharuskan penggilingan dan pemrosesan dilakukan secara lokal. Oleh karena itu, pabrik kayu lapis dan lainnya sedang dibangun di Sorong. Lautan sekitar Sorong kaya akan ikan tuna dan udang, yang juga merupakan komoditas ekspor utama. Di pulau Kabra, ada pertanian Jepang untuk budidaya mutiara, sedangkan sirip ikan hiu dan trepang dikirim ke Hong Kong, Taiwan dan China.

Aktivitas

Di Sorong, di sebuah bukit yang menghadap ke kota, ada peringatan perang bagi orang-orang Jepang yang meninggal, yang dikenal sebagai Tugu Arfak. Kompleks ini mencakup sebuah obelisk, dewa Shinto perunggu dan plakat peringatan. Selama Perang Dunia II, pesawat Amerika mengebom lapangan terbang di Pulau Jefman, yang aslinya dibangun oleh orang Jepang. Bandara kini telah dipindahkan dari Pulau Jefman ke Sorong, dan disebut Domine Eduard Osok, atau lebih dikenal dengan sebutan bandara DEO.

Untuk menyaksikan burung cendrawasih dan burung endemik Papua lainnya naik perahu motor ke Pulau Batanta, sekitar tiga sampai empat jam berkendara. Untuk melihat lebih baik tentang burung cendrawasih yang luar biasa, lakukan perjalanan ke Pulau Waigeo, sekitar lima sampai enam jam dengan menggunakan perahu motor. Di Desa Sawinggrai, misalnya, Anda bisa mengamati empat spesies Cenderawasih. Untuk menginap di Waigeo atau Sawinggrai, Anda perlu membawa tenda atau tidur di gubuk-gubuk lokal.

Untuk tur yang unik, salah satu perusahaan wisata Papua Expeditions yang memiliki pemandu pribadi yang berbahasa Inggris, Prancis, dan Belanda. Perusahaan ini memiliki misi yang luar biasa di antara misi terkait eko-wisata lainnya, yaitu berusaha membuat masing-masing tamu mereka menjadi duta besar seumur hidup untuk Papua.

Transportasi Sekitar

Dibandingkan dengan kota-kota lain di Papua, Sorong adalah kota dengan pertumbuhan tercepat. Ini sangat dinamis dan aman. Berkeliling di Sorong dimungkinkan dengan taksi, mobil carteran, dan juga becak untuk jarak yang lebih pendek.

Angkot juga tersedia dan Anda dianjurkan untuk selalu memastikan Anda tahu tujuan Anda. Terbaik tanyakan kepada staf yang ramah di hotel tempat Anda menginap sebelum berkeliling kota.

Perjalanan atau Rute Menuju Sorong

Meski sebagian besar penumpang antar pulau dan lalu lintas kargo dengan kapal, ada sejumlah penerbangan ke Sorong. Lion Air sekarang mengoperasikan pesawat B737-200 antara Jakarta - Makassar Bandara Domine Eduard Osok (DEO) di Sorong. Rute lain yang lebih panjang akan melalui Manado, yang dilayani oleh Silk Air dari Singapura, Garuda Indonesia, Pelita Air dan Citilink, kemudian melakukan koneksi ke Sorong. Di Sorong, ada bandara lain bernama Bandara Sorong (SOQ), yang juga disebut Bandara Jefman, selain Bandara Domine Eduard Osok (DEO).

or cancel